Tragis, Jutawan ini Kini Jadi Pemulung


Daftar Artikel Terbaru Lainnya 
Bak roda. Hidup terus berputar. Kadang seseorang berada di atas. Berjaya. Tapi sesaat kemudian tergilas di bawah. Terpuruk.



Itulah pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Ali Jafar Al-Miraihil, pria asal Al-Khobar, Arab Saudi, ini. Dulu pria 36 tahun ini merupakan jutawan. Bergelimang harta. Tapi lihatlah nasibnya kini. Dia terpaksa menjadi pemulung yang saban hari bergelut dengan sampah.

Kisah itu bermula saat Jafar beberapa kali bertandang ke Bahrain. Dia kemudian mendapat jodoh wanita lokal. Mereka dikaruniai empat anak, yang tertua berusia 10 tahun, kemudian si kembar berusia 7 tahun, dan putri bungsu berusia 8 bulan.

Setelah pernikahan itu, Jafar semakin sering berkunjung ke Bahrain. Dan dia melihat peluang usaha di negeri sang istri. Dan tak sekadar niat, peluang itu dia wujudkan menjadi usaha betulan.

“Melihat pasar di Bahrain, aku sadar ada potensi besar untuk sukses berinvestasi,” tutur Jafar, sebagaimana dikutip Dream dari Saudi Gazette, Jumat 18 Maret 2016.

Pada 2003, dia tinggal di Manama dan mendirikan sebuah perusahaan jual beli air conditioner (AC). “Aku mengajukan izin dagang ke Kementerian Perdagangan dan Industri Bahrain dan mendapatkan izin pada 2004,” kata dia.

Izin telah di tangan dan lambat laut usaha itu berkembang pesat. Dalam waktu singkat dia sudah mendapat proyek lumayan. Mendapat kontrak dengan perusahaan besar. Usaha terus dilebarkan hingga impor semen dan baja untuk konstruksi.

“Aku mulai usaha dengan modal 100 ribu riyal [Rp 350 juta], dan berkembang menjadi 700 ribu riyal [Rp 2 miliar] dalam beberapa tahun,” kata Jafar.

Usaha itu lancar hingga dia mendapat kontrak proyek Durat Al-Bahrain. Di sinilah kegagalan menderanya. “Aku membeli bahan-bahan untuk membangun 75 vila tapi kontraktor tidak pernah membayar tagihanku.”

Masalah itu muncul karena setelah dia membeli bahan-bahan bangunan, harga baja konstruksi anjlok. Sehingga para kontraktor itu tak mau membayar dengan nilai sebelum harga anjlok.

Saat itu, dia harus menanggung kerugian 250 ribu riyal atau hampir Rp 900 juta. Sejak itu, para kontraktor meninggalkan dia. Dan apesnya, dia terjerat utang 1 juta riyal atau sekitar Rp 3,5 miliar.

“Aku mengambil utang dari bank dan meminjam dari banyak orang, dan aku tak pernah bisa membayar, meskipun hanya 10 persen telah kembali.”

Jafar juga tidak bisa menggugat para kontraktor, sebab dia tidak punya uang sama sekali. “Aku tak bisa membayar pinjamanku, aku juga tak bisa mendapat pekerjaan sebab polisi Bahrain melarang aku keluar Bahrain dan mengeluarkan perintah penahananku.”

Ya, Jafar bangkrut. Utang menumpuk. Sudah begitu menjadi buronan pula. Benar-benar terpuruk hidupnya. “Aku menjual semua yang aku punya dan yang saya bisa hanya mengungsi ke Kedutaan Besar Saudi di Bahrain.”

Hidupnya serasa makin hancur setelah kondisi kesehatannya memburuk. Sebuah penyakit menggerogoti telinga kirinya, hingga mengeluarkan d*rah dan n*nah.

Dokter menyarankan op*rasi dengan biaya 360 ribu riyal atau sekitar Rp 1,3 miliar. Jika op*rasi tak dilakukan, akibat penyakit itu bisa fatal.

Jelas saja dia tak mampu. Apalagi setiap kontrol ke dokter dia harus merogoh kocek 300 riyal atau sekitar Rp 1 juta. Tak ada pilihan, dia lantas bekerja mencuci mobil di jalanan untuk biaya berobat. Tak hanya itu, dia juga memungut sampah. Menjadi pemulung.

Tapi beruntung, Kedutaan Besar Saudi di Bahrain bersedia membayar sebagian utang itu, juga biaya berobat. Kedutaan juga memberi bantuan pengacara unuk mengurus kasus bisnisnya di pengadilan. Tapi sayang, kata Jafar, Kedutaan kemudian balik melawan dia.

“Setelah itu, kedutaan berbalik melawan aku seperti polisi Al-Khobar mengeluarkan perintah penahanan sebab kedutaan meminta aku mengembalikan apa yang telah mereka keluarkan,” ujar dia.

“Aku putus asa sehingga aku pergi ke komisi hak asasi manusia tapi mereka menolak untuk meneria kasusku,” keluh dia.

Namun, pada akhirnya Jafar memohon kepada kreditor untuk membebaskannya dari kewajiban membayar utang, dan untungnya sebagian besar kreditor setuju. Dia kemudian bisa membayar sebagian besar utang itu.

Saat ini Jafar masih menyisakan utang 300 riyal atau sekitar Rp Rp 1 miliar. Dan rupanya, permohonannya kepada Kementerian Dalam Negeri Saudi untuk membantunya berhasil. Kementerian itu berjanji melunasi utang-utang Jafar itu.

Jafar mengaku saat ini belum menerima uang yang dijanjikan untuk melunasi itu. Tapi dia yakin akan menerima bantuan tersebut. Dan setelah lunas, dia berniat balik ke Saudi. Hidup di kampung halaman..... 





sumber | republished by Hey Unik !




ARTIKEL TERKAIT

heyunik.blogspot.com - yang unik, emang asyik ! :)

Daftar Artikel Terbaru Lainnya 

" Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (Alquran, Surat : al-Isra ayat 36)

Back to Top